Sumber Hukum Islam

A. SUMBER HUKUM ISLAM

Pada dasarnya, sumber hukum islam ada dua, yaitu al-Quran dan al-Hadits, firman Allah yang artinya : “hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan Rosul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu bebeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rosul (sunah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (Q.S an-Nisa: 59)

Sabda Rasulullah SAW : “Rosulullah SAW bersabda : Aku tinggalkan kepadamu sekalian dua perkara, apabila kamu berpegang teguh kepada kedua perkara tersebut niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, kedua perkara perkara itu ialah Kitab Allah (al-Quran) dan sunah Rasulullah (Hadits).” (HR. Bukhari dan Muslim)

B. Pengertian, kedudukan dan fungsi Al-Quran, al-Hadits sebagai sumber hukum islam dan Ijtihad sebagai metode penetapan hukum

1. al-Quran

a. Pengertian al-Quran

Al-Quran menurut bahasa berarti bacaan, sedangkan menurut istilah adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (baik makna maupun redaksinya) melalui perantaraan malaikat Jibril.

Al-Quran turun secara berangsur-angsur dalam tenggang waktu kurang lebih 23 tahun, yaitu sejak Muhammad bin Abdullah diangkat sebagai Nabi dan Rosul hingga beliau wafat.

Al-Quran terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6.236 ayat. Ayat-ayat yang turun pada periode Makkah (Ayat Makkiyah) sebanyak 4.780 ayat yang tercakup dalam 86 surat. Sedangkan ayat-ayat yang turun pada periode Madinah (ayat Madaniyah) sebanyak 1.456 ayat yang tercakup dalam 28 surat.

Ayat-ayat Makiyah pada umumnya mengandung nuansa sastra yang kental, karena itu ayat-ayatnya pendek-pendek. Isinya banyak mengedepankan prinsip-prinsip dasar kepercayaan dan meletakkan kaidah-kaidah umum syariah dan akhlak. Adapun ayat Madaniyah menerangkan aspek syariah baik menyangkut peraturan tentang ibadah maupun muamalah dan akhlak.

b. Kedudukan al-Quran

Al-Quran merupakan sumber huku Islam pertama. Hal ini didasarkan pada surat al-Imron :132

c. Fungsi al-Quran

Al-Quran merupakan mukjizat Rosulullah Muhammad, yang berfungsi sebagai pedoman hidup bagi setiap muslim. Al-Quran juga berfungsi sebagai koreksi atas kitab-kitab sebelumnya. Al-Quran menjadi rahmat, hidayah, dan syafaat bagi seluruh manusia. Ajaran al-Quran selalu sesuai kebutuhan manusia dalam kancah kehidupan dan cocok dengan fitrah manusia. Sebagai pedoman hidup manusia, Al-Quran dijamin kemurniannya oleh Allah.

2. Al-Sunnah

a. Pengertian As-sunnah

Ditinjau dari segi bahasa sunnah berarti jalan, kebiasaan dan tradisi. Kebiasaan dan tradisi mencakup yang baik dan yang buruk. Makna sunah secara terminologias identik dengan hadits, yaitu informasi yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik perkataan, perbuatan maupun ketetapan. Sunnah juga biasa disebut dengan Hadits.

b. Kedudukan Hadits

Berdasarkan dalil Al-Quran Surat al-Imron 132, al-Ahzab 36 dan al-Hasyr ayat 7, maka sunnah atau hadits menduduki posisi kedua sebagai sumber hukum Islam setelah al-Quran.

c. Fungsi Hadits

Nabi Muhammad sebagai Rosul diberi tugas untuk menjelaskan hukum-hukum dan memberikan contoh penerapannya. Sejalan dengan tugas tersebut, segala keternangan dari rosul yang berkaitan dengan syariat yang terbukti shohih menrupakan bagian dari wahyu itu sendiri. Karna iu semua hadits shohih wajib diikuti oleh semua manusia.

Fungsi hadits secara ringkas adalah sebagai berikut :

(1) Memperkuat hukum yang telah ditentukan oleh al-Quran

(2) Memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat al-Quran yang bersifat umum

(3) Menetapkan hukum yang tidak didapatkan dalam al-Quran

3. Ijtihad

a. Pengertian Ijtihad

Ijtihad menurut bahasa brasal dari kata ijtahada, berarti “mencurahkab tenaga, memeras pikiran, berusaha sungguh-sungguh dan bekerja semaksimal mungkin.” Sedangkan menurut istilah, ijtihad adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah yang tidak ada ketetapan hukumnya, baik dalam al-Quran maupun Hadits.

Orang yang mampu menetapkan suatu hukum atas suatu masalah disebut mujtahid, sementara proses mengeluarkan hukum dari dalilnya disebut sebagai istinbath.

b. Kedudukan Ijtihad

Ijtihad merupakan sumber hukum islam ketiga setelah al-Quran dan Hadits. Hasil Ijtihad bisa berbeda menurut ruang dan waktu serta menurut tingkat intelektual mujtahid.

c. Syarat berijtihad

(1) Memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan bahasa arab, tafsir, ilmu hadits, sejarah dan ilmu usdhul fiqh

(2) Mengetahui metodologi, seperti qiyas dan Ijma’

d. Metode Ijtihad

(1) Ijma’ (kesepakatan ulama)

(2) Qiyas (menetapkan hukum sesuatu yang belum ada hukumnya dengan mengacu pada hukum sesuatu yang telah ada hukumnya, berdasarkan persamann yang ada antara dua hal tersebut)

(3) Istihsan (berorientasi pada kabaikan)

(4) Maslahah Mursalah (berorientasi pada kemaslahatan umat)

(5) Istishab (menetapkan hukum atas dasar hukum asal, karena tidak adanya hukum qath’i (hukum yang pasti) yang mengubah hukum asal tersebut

(6) ‘Urf (menetapkan hukum sesuatu dengan berorientasi pada adat istiadat)

(7) Syaddudz Dzari’ah (berorientasi pada mencegah bahaya yang mungkin timbul)

C. PEMBAGIAN HUKUM ISLAM

Hukum islam ada dua macam, yaitu taklifi dadn wad’i. Hukum taklifi ialah firman Allah yang menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara berbuat atau meninggalkan.

Sedangkan sukum wad’i ialah firman Allah yang menuntut menjadikan sesuatu sebagai sebab syarat atau penghalang dari sesuatu yang lain.

Hukum taklifi ada lima macam :

1. wajib ialah tuntutan syara’ yang bersifat melaksanakan sesuatu dan tidak boleh ditinggalkan. Apabila dilakukan mendapa pahala, sedangkan yang meninggalkan mendapat dosa

2. Sunah, aialah tuntunan syara’ untuk melaksanakan suatu perbuatan yang tidak bersifat memaksa, melainkan sebagai anjuran, sehingga seseorang tidak dilarang untuk meninggalkannya. Bagi orang yang melaksanakan mendapat pahala dan yang meninggalkan tidak mendapat dosa.

3. Mubah, yaitu perintah Allah yang bersifat fakkultatif (mengandung pilihan antara berbuat atau tidak berbuat

4. Makruh, yaitu tuntutan untuk meninggalkan yang tidak bersifat memaksa. Apabila ditinggalkan mendapat pahala, sedangkan apabila dikerjakan tidak berdosa

<p class="MsoPlainText" style="margin-left:63pt;

Semangat Keilmuan

1. PENJELASAN HADITS TENTANG MENUNTUT ILMU

a. Hadits Riwayat Ibnu Majah

طلب العلم فريضة على كل مسلم

“Rosulullah bersabda : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”

(HR. Ibnu Majah)

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di atas, memerintahkan kita untuk menuntut ilmu. Hadits tersebut menjelaskan bahwa mencari ilmu hukumnya fardhu (wajib) bagi setiap orang Islam. Dalam Islam dikenal ada dua macam fardhu, yakni fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu ‘ain adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang Islam, seperti sholat lima waktu. Sedangkan fardhu kifayah, adalah kewajiban yang dibebankan kepada sebagian orang islam, dan apabila sudah dilakukan oleh sebagian mereka, maka yang lain tidak mendapat dosa, missal merawat jenazah. Sedangkan menuntut ilmu, hukumnya adalah fardhu ‘ain yang harus dilakukan oleh setiap orang islam (baik laki-laki maupun perempuan) alam al-Quran juga banyak sekali ayat yang menerangkan tentang menuntut ilmu. Bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Yakni surat al-Alaq 1-5  yang artinya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,dan tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkankan manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S Al-Alaq 1-5)

 

Allah menetapkan kewjiban menuntut ilmu karena manfaatnya yang besar bagi manusia. Allah juga memberikan penghormatan yang tinggi kepada para penuntut ilmu. Penghormatan Allah ini sangat mahal nilainya dan tidak mungkin ditebus dengan apapun, yaitu kemudahan untuk masuk surga. Masuk surga adalah tujuan dan cita-cita setiap orang yang beriman, sebab masuk surga merupakan nikmat paling besar yang diberikan Allah kepada manusia. Seperti disebutkan dalam hadis Rosulullah yang artinya : Dari Abu Hurairah r.a sesunguhnya Rosulullah SAW bersabda :’Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga” (H.R Muslim)

Kemudahan masuk surga diberikan Allah kepada orang yang menuntut ilmu, karena dengan ilmu yang dimiliki, para penuntut ilmu akan melaksanakan ibadah kepada-Nya dengan benar. Ibadah yang benar yang disertai ilmunya itulah yang akan menjadi sarana yang dapat memudahkan seseorang masuk surga.

b. Hadits Riwayat Baihaqi

Rosulullah bersabda : jadilah orang yang pandai, pelajar atau pendengar (ilmu). Dan janganlah kamu jadi orang yang keempat (selain merekaa), sebab kamu akan binasa. (HR. Darami)

Dalam hadits riwayat Baihaqi, Rosulullah SAW memerintahkan kita untuk memilih beberapa alternatif yang diberikan berkaitan dengan kewajiban menuntut ilmu. Di antara alternatif tersebut adalah :

a. Hendaknya kita menjadi orang yang pandai dan berilmu. Sebab, orang yang pandai akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

b. Apabila kita tidak atau belum menjadi orang yang pandai, hendaknya kita menjadi orang yang belajar untuk menjadi orang yang pandai.

c. Apabila kesempatan belajar juga tidak kita miliki karena berbagai sebab, maka hendaknya kita menjadi pendengar ilmu. Sebab, pada hakikatnya mendengarkan ilmu juga merupakan proses belajar, sehingga diharapkan nantinya juga akan menjadi pemilik ilmu.

 

2. PENJELASAN HADITS TENTANG KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU

 

Hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi :

عن ابي الدرداء رضي الله عنه قال :سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول :

فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و ان العلماء ورثة الأنبياء

و ان الأنبياء لم يورثوا دينارا لا درها ما و انما ورثوا العلم فمن اخده اخد بحظ وافـر.

(رواه ابو داود و الترمذي)

 

 

“Dari Abu Darda’ r.a berkata ,”saya mendengar Rosulullah SAW bersabda : keutamaan orang yang berilmu terhadap orang yang ahli ibadah bagaikan bagaikan keutamaan bulan terhadap segenap bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tiak mewariskan dinar atau dirham tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia mengambil bagian yang sempurna. (H.R Abu Daud dan Tirmidzi)

 

Seperti yang kita tahu, bahwa tujuan penciptaan manusia yang utama adalah untuk menyembah Allah SWT. Dengan demikian, menjadi orang ahli ibadah adalah tujuan setiap manusia, sebab akan mendapat kehormatan tinggi dari Allah SWT karena telah memenuhi tuntutan-Nya sebagai hamba Sang Kholik (Pencipta).

Namun, demikian keutamaan orang yang ahli ibadah tidak bisa menandingi keutamaan orang yang berilmu. Nabi menyatakan, bahwa orang yang berilmu bagaikan bulan, sedang orang yang ahli ibadah bagaikan bintang-bintang. Allah memberikan keutamaan kepada orang yang berilmu jauh di atas orang yang ahli ibadah.

Yang dimaksud ilmu disini adalah keseluruhan ilmu pengetahuan, tidak hanya ilmu agama saja, dan ilmu itu di amalkan baik untuk dirinya sendiri maupun mengajarkannya kepada orang lain, sabda Nabi :

العِـلـمُ بلا عَـمَـلٍ كالـشَّجَـرٍ بلا ثـمَـر

Ilmu yang tidak di amalkan, bagaikan pohon yang tidak berbuah

Akan tetapi, orang yang mengajarkan ilmu tentang kebaikan kepada orang lain, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan, maka Allah SWT akan sangat murka kepada orang tersebut. Allah SWT berfirman yang artinya : “Hai orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan. (Itu) sanngatlah dibenci di sisi Allah apabila kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan. (Q,.S As-Shaf 2-3)

 

Jadi,memulai kebaikan itu harus dimulai dari sendiri. Apabila diri sendiri tidak melakukan, hanya memerintahkan kepada orang lain, maka tidak akan mendapat sambutan positif dari orang lain.

3. PERILAKU GEMAR BELAJAR

Orang yang memiliki ilmu akan mendapatkan kehormatan, baik di hadapan Allah, maupun di hadapan manusia. Untuk memperoleh ilmu, tidak ada cara lain kecuali belajar. Orang yang gemar belajar akan memiliki ilmu pengetahuan yang luas, sehingga dalam dirinya terbentuk sikap, antara lain :

a. Selalu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya

Sebab, dia yakin waktu yang sudah berlalu tidak akan bisa kembali lagi. Oleh karena itu, dia akan gunakan waktu yang ada dengan sebaik mungkin.

b. Menghargai ilmu pengetahuan dan menghormati orang yang berilmu

Khususnya terhadap guru yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan kepadanya.

c. Semakin tawadhu dan rendah hati

d. Lebih cinta terhadap ilmu pengetahuan

JANGAN MENYERAH…

ayo berdoa

Teman…

Saat bahagia menyapamu, janganlah lupa tuk tetap berdoa, bersyukur atas segala yang telah Allah berikan

Saat derita menderamu, janganlah menyangka bahwa Allah membencimu….

Ingatlah Allah baik saat sedih, senang, lapang, sempit, sehat maupun sakit…

ingatlah selalu tuk selalu berdoa

Allah Maha Mendengar Lagi Maha Bijaksana

Materi I : Bahasa Arab Dasar

الـفـاعِـلُ

Artinya adalah : pelaku/Subjek الفاعل

  1. Pada setiap pekerjaan (sesuatu yang dilakukan), pasti ada yang mengerjakan /pelaku/subjek
  2. Perhatikan contoh berikut :
artinya : Ahmad pergi ke sekolah 

artinya : Umar membuka pintu

artinya : Yusuf makan roti

ذَهَبَ اَحْمَدُ اِلىَ الْمَدْرَسَةِ 

فَـتَـحَ عُـمَـرُ البابَ

اكَـلَ يُوْ سُـفُ الحُـبْـزَ

  1. Kalimat yang bergaris merupakan pelaku, dan disebut sebagai الفاعل
  2. الفاعل selalu berharokat dzommah

Contoh lain :

artinya : Anak itu tertawa 

artinya : Pak Guru datang

artinya : Murid itu diam

ضَحِـكَ الـوَلَـدُ 

جَاءَ الأُسْـتـَاذ

سَكَـتَ الـتِـلْمِـيْـذ

الـمَـفـعُـوْلُ بِهِ

Artinya adalah : pelaku/Subjek المفعول بِهِ

  1. Pada setiap pekerjaan (sesuatu yang dilakukan), ada yang dinamakan objek
  2. Perhatikan contoh berikut :
artinya : Umar membuka pintu 

artinya : Yusuf makan roti

فَـتَـحَ عُـمَـرُ البابَ 

اكَـلَ سُـلَيْـمَانُ الحُـبْـزَ

  1. Kalimat yang bergaris merupakan objek, dan disebut sebagai المفعول

4.المفعول selalu berharokat fathah (َ_ً_(

5.Tugas =>

Berilah harokat pada kalimat berikut, dan tentukan manakah المفعول   / الفاعل

Dengan memberi garis bawah pada kalimat yang dimaksud!

  1. ذهب يو سـف الى المدرسة
  2. دخل الـولَـد حـديـقـة
  3. اكَـل الـتـلمـيـذ الرز
  4. فحص الطـبـيـب المريض
  5. شرب عمر العصير

2. Buatlah 2 kalimat yang terdiri dari  + المفعول الـفـاعـل+الـفـعـل !

مع النجاح

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Arsip

Desember 2016
M S S R K J S
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

  • 6,513 hits